KoderKoder.ai
HargaEnterpriseEdukasiUntuk investor
MasukMulai

Produk

HargaEnterpriseUntuk investor

Sumber daya

Hubungi kamiDukunganEdukasiBlog

Legal

Kebijakan privasiKetentuan penggunaanKeamananKebijakan penggunaan yang dapat diterimaLaporkan penyalahgunaan

Sosial

LinkedInTwitter
Koder.ai
Bahasa

© 2026 Koder.ai. Hak cipta dilindungi.

Beranda›Blog›PostgreSQL LISTEN/NOTIFY: Kapan Cukup untuk Pembaruan Langsung
21 Agu 2025·7 menit

PostgreSQL LISTEN/NOTIFY: Kapan Cukup untuk Pembaruan Langsung

PostgreSQL LISTEN/NOTIFY dapat mendukung dasbor dan notifikasi langsung dengan pengaturan minimal. Pelajari kapan cocok digunakan, batasannya, dan kapan menambahkan broker.

PostgreSQL LISTEN/NOTIFY: Kapan Cukup untuk Pembaruan Langsung

Masalah apa yang ingin diselesaikan LISTEN/NOTIFY

"Pembaruan langsung" di UI produk biasanya berarti layar berubah segera setelah sesuatu terjadi, tanpa pengguna melakukan refresh. Angka bertambah di dasbor, badge merah muncul di kotak masuk, admin melihat pesanan baru, atau muncul toast yang mengatakan "Build finished" atau "Payment failed". Intinya adalah timing: terasa instan, meskipun sebenarnya satu atau dua detik.

Banyak tim memulai dengan polling: browser menanyakan server “ada yang baru?” setiap beberapa detik. Polling bekerja, tapi punya dua kelemahan umum.

Pertama, terasa lambat karena pengguna hanya melihat perubahan pada poll berikutnya.

Kedua, bisa jadi mahal karena Anda melakukan cek berulang meskipun tidak ada perubahan. Kalikan itu dengan ribuan pengguna dan itu menjadi kebisingan.

PostgreSQL LISTEN/NOTIFY ada untuk kasus yang lebih sederhana: "beri tahu saya saat sesuatu berubah." Alih-alih menanyakan berulang-ulang, aplikasi Anda bisa menunggu dan bereaksi ketika database mengirim sinyal kecil.

Ini cocok untuk UI di mana sebuah dorongan saja sudah cukup. Contohnya:

  • Ubin dasbor harus menyegarkan karena total berubah
  • Jumlah badge harus diperbarui karena item baru tiba
  • Alert internal muncul karena status job berubah

Pertukaran yang terjadi adalah kesederhanaan versus jaminan. LISTEN/NOTIFY mudah ditambahkan karena sudah ada di Postgres, tetapi bukan sistem messaging penuh. Notifikasi adalah petunjuk, bukan catatan tahan lama. Jika listener terputus, dia mungkin melewatkan sinyal.

Cara praktis menggunakannya: biarkan NOTIFY membangunkan aplikasi Anda, lalu biarkan aplikasi membaca kebenaran dari tabel.

Bagaimana PostgreSQL LISTEN/NOTIFY bekerja secara sederhana

Anggap PostgreSQL LISTEN/NOTIFY sebagai bel pintu sederhana yang tertanam di database Anda. Aplikasi Anda bisa menunggu bel itu berbunyi, dan bagian lain dari sistem bisa membunyikannya saat sesuatu berubah.

Notifikasi punya dua bagian: nama channel dan payload opsional. Channel seperti label topik (misalnya orders_changed). Payload adalah pesan teks singkat yang Anda lampirkan (misalnya id order). PostgreSQL tidak memaksa struktur, jadi tim sering mengirim string JSON kecil.

Siapa yang membunyikan bel?

Notifikasi bisa dipicu dari kode aplikasi (API Anda menjalankan NOTIFY) atau dari database itu sendiri menggunakan trigger (trigger menjalankan NOTIFY setelah insert/update/delete).

  • Kode aplikasi lebih mudah diikuti dan dites.
  • Trigger membantu ketika banyak penulis menyentuh tabel yang sama dan Anda ingin perilaku konsisten.

Di sisi penerima, server aplikasi membuka koneksi database dan menjalankan LISTEN channel_name. Koneksi itu tetap terbuka. Ketika NOTIFY channel_name, 'payload' terjadi, PostgreSQL mendorong pesan ke semua koneksi yang mendengarkan channel itu. Aplikasi Anda lalu bereaksi (menyegarkan cache, mengambil baris yang berubah, mendorong event WebSocket ke browser, dan seterusnya).

Apa yang dilakukan (dan tidak dilakukan) NOTIFY

NOTIFY paling mudah dipahami sebagai sinyal, bukan layanan pengantaran:

  • Ini memberi tahu listener bahwa "sesuatu terjadi" saat ini.
  • Tidak menjamin setiap pesan diterima (listener yang terputus akan melewatkannya).
  • Bukan antrean (pesan tidak disimpan untuk nanti).
  • Payload terbatas ukurannya dan sebaiknya kecil.
  • Harus menunjuk ke data, bukan menggantikannya (kirim id, lalu query detailnya).

Dengan penggunaan seperti ini, PostgreSQL LISTEN/NOTIFY bisa memberi kekuatan pada pembaruan UI langsung tanpa menambah infrastruktur ekstra.

Kapan LISTEN/NOTIFY cukup untuk pembaruan UI langsung

LISTEN/NOTIFY bersinar ketika UI Anda hanya butuh dorongan bahwa sesuatu berubah, bukan aliran event penuh. Pikirkan "segar ulang widget ini" atau "ada item baru" daripada "proses setiap klik secara berurutan."

Ini bekerja terbaik ketika database sudah menjadi sumber kebenaran Anda dan Anda ingin UI tetap sinkron dengannya. Pola umum: tulis baris, kirim notifikasi kecil yang berisi ID, dan biarkan UI (atau API) mengambil status terbaru.

LISTEN/NOTIFY biasanya cukup ketika sebagian besar kondisi ini terpenuhi:

  • Pesan adalah sinyal kecil "sesuatu berubah", bukan payload penuh.
  • Volume event rendah hingga sedang (burst boleh, throughput tinggi terus-menerus tidak ideal).
  • Jika pengguna melewatkan notifikasi, UI bisa pulih dengan reload atau polling singkat.
  • Anda menghargai kesederhanaan lebih dari jaminan pengantaran sempurna (umum untuk produk awal dan alat internal).
  • Anda memiliki satu database utama dan ingin lebih sedikit komponen bergerak.

Contoh konkret: dashboard internal menunjukkan "tiket terbuka" dan badge untuk "catatan baru." Ketika agen menambahkan catatan, backend menulisnya ke Postgres dan NOTIFY ticket_changed dengan ID tiket. Browser menerimanya lewat koneksi WebSocket dan mengambil kembali satu kartu tiket itu. Tidak perlu infrastruktur tambahan, dan UI terasa langsung.

Di mana LISTEN/NOTIFY mulai runtuh

LISTEN/NOTIFY bisa terasa hebat pada awalnya, tapi memiliki batas keras. Batas itu muncul ketika Anda memperlakukan notifikasi seperti sistem pesan alih-alih ketukan ringan di bahu.

Kesenjangan terbesar adalah durabilitas. NOTIFY bukan pekerjaan antrean. Jika tidak ada yang mendengarkan pada saat itu, pesan akan terlewat. Bahkan saat listener terhubung, crash, deploy, gangguan jaringan, atau restart database bisa memutus koneksi. Anda tidak akan otomatis mendapatkan kembali notifikasi yang terlewat.

Disconnect sangat menyakitkan untuk fitur yang berhadapan dengan pengguna. Bayangkan dashboard yang menunjukkan pesanan baru. Tab browser tidur, WebSocket reconnects, dan UI terasa "stuck" karena melewatkan beberapa event. Anda bisa mengakali ini, tapi solusi itu bukan lagi "hanya LISTEN/NOTIFY": Anda membangun kembali state dengan query ke database dan menggunakan NOTIFY hanya sebagai petunjuk untuk menyegarkan.

Fan-out adalah masalah umum lainnya. Satu event dapat membangunkan ratusan atau ribuan listener (banyak instance app, banyak pengguna). Jika Anda menggunakan satu channel berisik seperti orders, setiap listener terbangun meskipun hanya satu pengguna yang peduli. Itu bisa menciptakan lonjakan CPU dan tekanan koneksi pada waktu terburuk.

Ukuran payload dan frekuensi adalah jebakan akhir. Payload NOTIFY kecil, dan event frekuensi tinggi bisa menumpuk lebih cepat daripada yang bisa ditangani klien.

Waspadai tanda-tanda ini:

  • Anda butuh pengantaran terjamin, retry, atau jaminan urutan.
  • Klien sering reconnect dan tidak boleh melewatkan update.
  • Satu channel membangunkan banyak listener yang sebagian besar mengabaikan event.
  • Anda mengirim payload besar atau memicu event berkali-kali per detik.

Pada titik itu, tetap gunakan NOTIFY sebagai "poke," dan pindahkan keandalan ke tabel atau broker pesan yang tepat.

Langkah demi langkah: pola sederhana yang bekerja

Export the source when ready
Own the React, Go, and PostgreSQL code and move it into your repo anytime.
Export Code

Polanya adalah menjadikan NOTIFY sebagai dorongan, bukan sumber kebenaran. Baris database adalah kebenaran; notifikasi memberi tahu aplikasi kapan harus melihat.

1) Tulis, commit, lalu notify

Lakukan penulisan dalam transaksi, dan hanya kirim notifikasi setelah perubahan data dikomit. Jika Anda notify terlalu dini, klien bisa terbangun dan tidak menemukan data.

Setup umum adalah trigger yang dipicu pada INSERT/UPDATE dan mengirim pesan kecil.

NOTIFY dashboard_updates, '{\\\"type\\\":\\\"order_changed\\\",\\\"order_id\\\":123}'::text;

2) Pilih nama channel sederhana dan payload kecil

Penamaan channel bekerja paling baik ketika cocok dengan cara orang berpikir tentang sistem. Contoh: dashboard_updates, user_notifications, atau per-tenant seperti tenant_42_updates.

Jaga payload tetap kecil. Letakkan identifier dan tipe, bukan record penuh. Bentuk default yang berguna:

  • type (apa yang terjadi)
  • id (apa yang berubah)
  • opsional tenant_id atau user_id

Ini menjaga bandwidth rendah dan menghindari kebocoran data sensitif ke log notifikasi.

3) Tangani reconnect dan subscribe ulang setiap koneksi

Koneksi bisa putus. Rencanakan itu.

Saat connect, jalankan LISTEN untuk semua channel yang Anda butuhkan. Saat disconnect, reconnect dengan backoff singkat. Saat reconnect, LISTEN lagi (langganan tidak bertahan). Setelah reconnect, lakukan refetch cepat dari "perubahan terbaru" untuk menutup kemungkinan event yang terlewat.

4) Perbarui UI: refetch dulu, patch kemudian

Untuk sebagian besar pembaruan UI langsung, refetch adalah langkah paling aman: klien menerima {type, id} lalu meminta server untuk keadaan terbaru.

Patch incremental bisa lebih cepat, tapi lebih mudah salah (event datang berurutan salah, kegagalan sebagian). Jalan tengah yang baik: refetch potongan kecil (satu baris order, satu kartu tiket, satu hitungan badge) dan biarkan agregat berat pada timer singkat.

Pola skala untuk dasbor dan notifikasi

Ketika Anda bergerak dari satu dasbor admin ke banyak pengguna yang menonton angka yang sama, kebiasaan baik lebih penting daripada SQL pintar. LISTEN/NOTIFY masih bisa bekerja dengan baik, tetapi Anda perlu membentuk aliran event dari database ke browser.

Baseline umum: setiap instance app membuka satu koneksi jangka panjang yang LISTEN, lalu mendorong update ke klien yang terhubung. Setup "satu listener per instance" ini sederhana dan sering cukup jika jumlah server app kecil dan Anda toleran terhadap reconnect sesekali.

Jika Anda punya banyak instance app (atau worker serverless), layanan listener bersama bisa lebih mudah. Satu proses kecil mendengarkan sekali, lalu fans out update ke sisa stack Anda. Ini juga memberi satu tempat untuk menambahkan batching, metrik, dan backpressure.

Untuk browser, biasanya Anda mendorong dengan WebSockets (dua arah, cocok untuk UI interaktif) atau Server-Sent Events (SSE) (satu arah, lebih sederhana untuk dasbor). Apapun pilihannya, hindari mengirim "refresh semuanya." Kirim sinyal ringkas seperti "order 123 changed" sehingga UI hanya mengambil apa yang diperlukan.

Untuk mencegah UI thrash, tambahkan beberapa pengaman:

  • Debounce burst (misalnya 100 sampai 500 ms) sebelum mendorong ke klien
  • Gabungkan duplikat (satu record berubah 10 kali, kirim 1 update)
  • Gunakan "dirty flags" per widget daripada refresh seluruh halaman

Desain channel juga penting. Alih-alih satu channel global, bagi berdasarkan tenant, tim, atau fitur sehingga klien hanya menerima event relevan. Contoh: notify:tenant_42:billing dan notify:tenant_42:ops.

Kesalahan umum dan cara menghindarinya

LISTEN/NOTIFY terasa sederhana, itulah sebabnya tim sering cepat merilisnya dan kemudian kaget di produksi. Sebagian besar masalah muncul dari memperlakukannya seperti antrean pesan yang tahan lama.

1) Menganggap notifikasi sebagai pesan tahan lama

Jika aplikasi Anda reconnect (deploy, gangguan jaringan, failover DB), setiap NOTIFY yang dikirim saat Anda terputus akan hilang. Perbaikan: jadikan notifikasi sinyal, lalu periksa ulang database.

Polanya: simpan event nyata di tabel (dengan id dan created_at), lalu saat reconnect ambil apa pun yang lebih baru dari id terakhir yang Anda lihat.

2) Memuat payload terlalu banyak

Payload LISTEN/NOTIFY tidak untuk blob JSON besar. Payload besar menambah kerja, parsing, dan peluang terkena limit.

Gunakan payload hanya untuk petunjuk kecil seperti "order:123". Lalu aplikasi membaca state terbaru dari database.

3) Mencampur "sinyal" dan "pengambilan data"

Kesalahan umum adalah mendesain UI berdasarkan isi payload, seolah-olah itu sumber kebenaran. Itu membuat perubahan skema dan versi klien jadi menyulitkan.

Pecah dengan jelas: beri tahu bahwa sesuatu berubah, lalu ambil data saat ini dengan query normal.

4) Trigger yang terlalu sering dipicu

Trigger yang NOTIFY pada setiap perubahan baris bisa membanjiri sistem Anda, terutama pada tabel sibuk.

Notify hanya pada transisi yang bermakna (misalnya perubahan status). Jika update sangat bising, batch perubahan (satu notify per transaksi atau per window waktu) atau pindahkan update itu dari jalur notify.

5) Mengabaikan backpressure di UI

Meski database bisa mengirim notifikasi, UI tetap bisa kewalahan. Dasbor yang merender ulang pada setiap event bisa membeku.

Debounce update di klien, gabungkan burst menjadi satu refresh, dan lebih suka "invalidate and refetch" daripada "terapkan setiap delta." Contoh: lonceng notifikasi bisa update instan, tapi dropdown daftar sebaiknya refresh maksimal setiap beberapa detik.

Checklist cepat: putuskan apakah LISTEN/NOTIFY cocok

Replace polling with nudges
Generate a lighter update loop using NOTIFY hints plus targeted refetches.
Try It Now

LISTEN/NOTIFY bagus ketika Anda ingin sinyal kecil "sesuatu berubah" sehingga aplikasi bisa mengambil data segar. Bukan sistem messaging penuh.

Sebelum membangun UI di sekitarnya, jawab pertanyaan ini:

  • Jika listener offline selama satu menit, bolehkah kehilangan event tanpa merusak apa pun? Jika kehilangan tidak bisa diterima, Anda butuh pengantaran tahan lama dan replay.
  • Apakah "hampir waktu nyata" cukup? Jika pengguna bisa mentolerir sedikit delay (atau refresh manual) saat deploy atau gangguan jaringan, LISTEN/NOTIFY biasanya cukup.
  • Berapa puncak burst Anda? Beberapa event per detik, atau lonjakan sesekali, adalah titik manis umum. Volume tinggi terus-menerus membuat channel bising dan sulit diatur.
  • Berapa banyak konsumen yang akan mendengarkan sekaligus? Satu atau beberapa backend worker mudah. Ratusan atau ribuan klien terhubung biasanya berarti Anda ingin lapisan fan-out (server Anda) daripada setiap orang mendengarkan langsung.
  • Apakah Anda membutuhkan urutan ketat di banyak tipe event? Jika dashboard bergantung pada "A harus diproses sebelum B" di antara banyak stream, itu cepat menjadi rumit.

Aturan praktis: jika Anda bisa memperlakukan NOTIFY sebagai dorongan ("pergi baca ulang baris") daripada sebagai payload itu sendiri, Anda berada di zona aman.

Contoh: dashboard admin menunjukkan pesanan baru. Jika notifikasi terlewat, poll berikutnya atau refresh halaman masih menunjukkan jumlah yang benar. Itu cocok. Tetapi jika Anda mengirim event seperti "charge this card" atau "ship this package", melewatkannya bisa menyebabkan insiden nyata.

Contoh: dasbor langsung plus notifikasi pengguna

Bayangkan aplikasi penjualan kecil: dasbor menunjukkan pendapatan hari ini, total pesanan, dan daftar "pesanan terbaru." Pada saat yang sama, setiap tenaga penjual harus mendapat notifikasi cepat ketika pesanan mereka dibayar atau dikirim.

Pendekatan sederhana adalah menjadikan PostgreSQL sumber kebenaran, dan menggunakan LISTEN/NOTIFY hanya sebagai ketukan di bahu bahwa sesuatu berubah.

Saat pesanan dibuat atau statusnya berubah, backend melakukan dua hal dalam satu permintaan: menulis atau memperbarui baris lalu mengirim NOTIFY dengan payload kecil (sering hanya ID pesanan dan tipe event). UI tidak bergantung pada payload NOTIFY untuk data lengkap.

Alur praktisnya:

  • Tulis perubahan pesanan dalam transaksi.
  • Setelah commit, NOTIFY orders_events dengan {\\\"type\\\":\\\"status_changed\\\",\\\"order_id\\\":123}.
  • Listener backend menerima event dan mendorongnya ke browser yang terhubung (WebSocket atau SSE).
  • Dasbor mengambil kembali apa yang diperlukan: baris order terbaru berdasarkan ID, dan total pada timer singkat (misalnya setiap 2 hingga 5 detik) alih-alih menghitung ulang pada setiap event.
  • Notifikasi pengguna ditargetkan: hanya tenaga penjual yang berlangganan pada order itu yang mendapat toast "paid" atau "shipped."

Ini menjaga NOTIFY ringan dan membatasi query mahal.

Saat trafik bertambah, retak mulai muncul: lonjakan event dapat membanjiri satu listener, notifikasi bisa terlewat saat reconnect, dan Anda mulai butuh pengantaran terjamin dan replay. Biasanya saat itulah Anda menambahkan lapisan lebih andal (outbox table plus worker, lalu broker jika perlu) sambil mempertahankan Postgres sebagai sumber kebenaran.

Kapan naik kelas ke broker khusus

Add rollback safety
Capture snapshots as you iterate on notifications and UI refresh logic.
Use Snapshots

LISTEN/NOTIFY bagus bila Anda perlu sinyal cepat "sesuatu berubah." Bukan untuk sistem messaging penuh. Ketika Anda mulai bergantung pada event sebagai sumber kebenaran, saatnya menambahkan broker.

Tanda jelas Anda sudah melebihi LISTEN/NOTIFY

Jika salah satu ini muncul, broker akan menghemat masalah:

  • Anda butuh durabilitas: event tidak boleh hilang saat app restart atau failover DB.
  • Anda butuh retry dan dead-letter handling: jika consumer gagal, pesan harus dicoba lagi dan dilacak.
  • Anda butuh consumer groups: banyak worker berbagi beban tanpa diproses ganda.
  • Anda butuh auditing dan replay: "tunjukkan semua yang terjadi jam lalu" atau "bangun ulang view dari event."
  • Anda butuh backpressure terkontrol: producer tidak boleh membanjiri consumer yang lambat.

LISTEN/NOTIFY tidak menyimpan pesan untuk nanti. Ini sinyal push, bukan log yang dipertahankan. Itu sempurna untuk "segar ulang widget dasbor," tapi berisiko untuk "trigger billing" atau "ship this package."

Apa yang ditambah broker (dalam bahasa sederhana)

Broker memberi model aliran pesan nyata: antrean (pekerjaan yang harus dilakukan), topik (broadcast ke banyak), retensi (simpan pesan beberapa menit hingga hari), dan acknowledgment (consumer mengonfirmasi pemrosesan). Itu memungkinkan Anda memisahkan "database berubah" dari "segala sesuatu yang harus terjadi karena itu berubah."

Anda tidak harus memilih alat paling kompleks. Opsi umum yang dievaluasi orang: Redis (pub/sub atau streams), NATS, RabbitMQ, dan Kafka. Pilihan terbaik bergantung pada apakah Anda butuh antrean kerja sederhana, fan-out ke banyak layanan, atau kemampuan untuk memutar ulang riwayat.

Rencana migrasi bertahap

Anda bisa pindah tanpa rewrite besar. Pola praktis: tetap gunakan NOTIFY sebagai sinyal sambil membuat broker menjadi sumber pengantaran.

Mulai dengan menulis "event row" ke tabel dalam transaksi yang sama dengan perubahan bisnis Anda, lalu worker mem-publish event itu ke broker. Selama transisi, NOTIFY tetap memberi tahu lapisan UI "cek event baru," sementara worker latar mengonsumsi dari broker dengan retry dan auditing.

Dengan cara ini, dasbor tetap responsif, dan alur kerja kritis berhenti bergantung pada notifikasi best-effort.

Langkah selanjutnya: kirim versi kecil dan iterasi dengan aman

Pilih satu layar (ubin dasbor, jumlah badge, toast "notifikasi baru") dan sambungkan end-to-end. Dengan LISTEN/NOTIFY Anda bisa mendapatkan hasil berguna dengan cepat, asalkan menjaga ruang lingkup sempit dan mengukur apa yang terjadi di lalu lintas nyata.

Mulai dengan pola andal paling sederhana: tulis baris, commit, lalu kirim sinyal kecil bahwa sesuatu berubah. Di UI, reaksi terhadap sinyal dengan mengambil keadaan terbaru (atau potongan yang Anda butuhkan). Ini menjaga payload kecil dan menghindari bug halus saat pesan datang tidak berurutan.

Tambahkan observabilitas dasar sejak awal. Anda tidak perlu alat mahal untuk memulai, tetapi Anda perlu jawaban saat sistem menjadi bising:

  • Log reconnect dan mulai langganan (dengan alasan)
  • Lacak laju notify dan puncak burst
  • Lacak laju fetch yang dipicu oleh notifikasi
  • Awasi gejala "missed update" (pengguna perlu refresh)

Pertahankan kontrak sederhana dan tertulis. Putuskan nama channel, nama event, dan bentuk payload (meskipun hanya ID). "Katalog event" singkat di repo Anda mencegah drift.

Jika Anda membangun cepat dan ingin menjaga stack sederhana, platform seperti Koder.ai bisa membantu Anda mengirim versi pertama dengan UI React, backend Go, dan PostgreSQL, lalu iterasi saat kebutuhan Anda semakin jelas.

Pertanyaan umum

What is PostgreSQL LISTEN/NOTIFY actually good for?

Gunakan LISTEN/NOTIFY ketika Anda hanya perlu sinyal singkat bahwa sesuatu berubah, misalnya untuk menyegarkan jumlah badge atau ubin dasbor. Anggap notifikasi sebagai dorongan untuk mengambil kembali data nyata dari tabel, bukan sebagai sumber datanya.

Why would I use LISTEN/NOTIFY instead of polling?

Polling memeriksa perubahan secara berkala, jadi pengguna sering melihat pembaruan terlambat dan server melakukan pekerjaan meskipun tak ada perubahan. LISTEN/NOTIFY mendorong sinyal kecil tepat saat perubahan terjadi, yang biasanya terasa lebih cepat dan mengurangi banyak permintaan kosong.

Does LISTEN/NOTIFY guarantee delivery?

Tidak, ini best-effort. Jika listener terputus saat NOTIFY dikirim, listener itu bisa melewatkan sinyal karena notifikasi tidak disimpan untuk diputar ulang nanti.

What should I put in the NOTIFY payload?

Jaga ukurannya kecil dan anggap sebagai petunjuk. Default praktisnya adalah JSON kecil dengan type dan id, lalu aplikasi Anda query Postgres untuk keadaan terkini.

Should I notify before or after committing a transaction?

Polanya umum adalah mengirim notifikasi setelah perubahan data dikomit. Jika Anda memberi notifikasi terlalu awal, klien bisa terbangun dan tidak menemukan baris baru yang belum dikomit.

Should I send NOTIFY from application code or from a trigger?

Kode aplikasi biasanya lebih mudah dipahami dan dites karena eksplisit. Trigger berguna ketika banyak penulis menyentuh tabel yang sama dan Anda mau perilaku konsisten tanpa tergantung siapa yang melakukan perubahan.

How do I handle reconnects without missing updates?

Rencanakan reconnect sebagai perilaku normal. Saat reconnect, jalankan LISTEN lagi untuk semua channel yang diperlukan dan lakukan refetch cepat dari keadaan terbaru untuk menutup celah apa pun yang mungkin terlewat saat offline.

How do I get database notifications into the browser?

Jangan biarkan setiap browser terhubung ke Postgres. Setup umum: satu koneksi listener panjang per instance backend, lalu backend meneruskan event ke browser melalui WebSocket atau SSE dan UI mengambil data yang diperlukan.

How do I avoid waking up too many listeners or flooding the UI?

Gunakan channel yang lebih sempit supaya hanya konsumen yang relevan yang terbangun, dan batch lonjakan yang bising. Debounce beberapa ratus milidetik dan gabungkan update duplikat untuk mencegah UI dan backend thrash.

When should I stop using LISTEN/NOTIFY and move to a broker?

Beralih saat Anda membutuhkan durabilitas, retry, grup konsumen, jaminan urutan, atau audit/putar ulang. Jika melewatkan event bisa menyebabkan insiden nyata (penagihan, pengiriman), gunakan outbox + worker atau broker khusus daripada hanya NOTIFY.

Daftar isi
Masalah apa yang ingin diselesaikan LISTEN/NOTIFYBagaimana PostgreSQL LISTEN/NOTIFY bekerja secara sederhanaKapan LISTEN/NOTIFY cukup untuk pembaruan UI langsungDi mana LISTEN/NOTIFY mulai runtuhLangkah demi langkah: pola sederhana yang bekerjaPola skala untuk dasbor dan notifikasiKesalahan umum dan cara menghindarinyaChecklist cepat: putuskan apakah LISTEN/NOTIFY cocokContoh: dasbor langsung plus notifikasi penggunaKapan naik kelas ke broker khususLangkah selanjutnya: kirim versi kecil dan iterasi dengan amanPertanyaan umum
Bagikan
Koder.ai
Buat aplikasi sendiri dengan Koder hari ini!

Cara terbaik untuk memahami kekuatan Koder adalah melihatnya sendiri.

Mulai GratisPesan Demo